October 15th, 2014
THIS!

THIS!

October 14th, 2014

azedh:

Waiting for this lil and big cutieeeeeeesss

(Source: meeseeks-the-cyan-nursebot)

October 9th, 2014
beningtirta:

Wah, bisa jadi tujuan karir nih. Hidup makmur dan bermanfaat!

beningtirta:

Wah, bisa jadi tujuan karir nih. Hidup makmur dan bermanfaat!

*slurp*

*slurp*

TRUE!

TRUE!

September 28th, 2014

Cerita Pos: Dulu, Kini, dan Nanti….

Dulu….

Dulu sekali, waktu aku masih bersekolah di Sekolah Dasar, ayah mengenalkanku pada sebuah kotak ajaib yang ternyata bernama kotak pos. Tentu saja di rumah kami tidak ada. Rumahku bukan tipe rumah besar dengan kotak pos di depannya.

Ayah selalu menceritakan bahwa semua surat atau kartu yang berasal dari mana saja bisa mendarat di kotak ini. Aku ingat waktu itu aku bertanya kepada ayah “bagaimana surat-surat itu tau jalan ayah?” Sebuah pertanyaan yang mungkin saat ini terdengar sangat bodoh, tapi waktu itu aku benar-benar penasaran. Ayah hanya menjawab “mereka mempunyai kode sendiri nak untuk sampai di tujuan.” Waktu itu aku hanya berpikir bahwa kode ini pasti sangatlah hebat.

Akhirnya aku meminta beliau untuk membuat kotak pos di depan rumah. Berbekal bambu dan kayu bekas, terbentuklah kotak pos jadi-jadian itu. Meski begitu, aku sudah sangat gembira…

Aku ingat. Sekali waktu aku memasukkan kertas yang sudah aku corat-coret dengan pensil warna, bergambarkan ikan, dengan tulisan “Aku senang memelihara ikan koki kakek”, ke dalam kotak pos tersebut berharap kertas tersebut sampai pada kakek. Namun, hari berikutnya yang aku temui hanya kekecewaan karena kertas itu tidak bergeming dari kotak. Aku pun memukuli ayah dan menuduh beliau berbohong, karena kertas itu tidak tau jalan. Ayah kemudian hanya tersenyum dan berjanji mengajakku ke sebuah tempat pada hari Jumat.

Hari Jumat pun tiba, ayah memboncengku ke sebuah tempat bernama “Kantor Pos”. Beliau mengajakku berkeliling dan mengenalkanku pada konsep “alamat surat”, “perangko”, dan “kartu pos”. Meskipun saat itu aku tidak mengerti keseluruhan apa yang dijelaskan oleh beliau, aku akhirnya tau bahwa surat-surat itu tidak pergi ke tempat tujuan secara ajaib. Bahwa surat harus diberi alamat tujuan, diberi perangko, dan dikirim ke kantor pos terlebih dahulu sebelum sampai ke tempat tujuan.

Sejak saat itu, berbekal bacaan di rubrik sebuah majalah anak-anak bernama “Sahabat Pena” aku mulai menulis surat-tentu saja dengan bantuan ayah. Tak seperti anak-anak lainnya yang lebih gemar bermain petak umpet sepulang sekolah, aku lebih suka berdiam di rumah menunggu datangnya tukang pos untuk mengantar surat balasan dari sang sahabat pena. Tentu kalau kalian juga membaca majalah itu, kalian pasti punya sahabat pena bukan? Aku saja masih hafal nama sahabat penaku saat itu. Ada Ihram Hadi di Palembang serta Anastasia Lumiko di Nabire. Bagaimana kabar mereka saat ini ya? *jadi penasaran*

Masih dulu…..

Saat aku SMP, salah satu momen paling mengesankan dengan pos adalah saat aku dipanggil menuju kantor guru dengan pengeras suara sekolah. Ada apa gerangan? Begini ceritanya….

Setelah beberapa lama tidak menulis untuk sahabat pena, aku kangen sekali dengan kantor pos. Kalian tau apa yang aku lakukan? Kalian tau RPUL? Ya, RPUL merupakan singkatan dari buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap. Kalau kalian belum tahu, saat itu di RPUL ada sebuah bagian dari buku yang menuliskan daftar kedutaan besar negara-negara dunia yang ada di Indonesia beserta alamat kedutaan tersebut. Dengan keisengan tingkat tinggi, aku menulis sebuah surat ke beberapa kedutaan tersebut, yakni Kedutaan Besar Australia, Kedutaan Besar Inggris, dan Kedutaan Besar Italia. Aku menulis kepada mereka bahwa aku sangat tertarik untuk belajar di negara mereka. Tak lupa aku mencantumkan fotoku di surat mereka serta alamat SMP ku untuk alamat balasan mereka. Kenapa alamat SMP? Karena alamat SMP lebih mudah ditemukan daripada alamat rumahku. Sebuah alasan yang bodoh bukan….. Kemudian aku kirimkan surat-surat tersebut ke kantor pos yang jaraknya hanya 15 meter dari SMPku.

Kembali lagi ke kejadian pemanggilanku ke kantor guru tadi. Disertai rasa kaget dan penasaran, aku izin ke guru Matematika ku saat itu, dan berjalan menuju kantor guru. Di kantor guru, sudah menunggu guru BK dan sebuah paket yang ditujukan kepadaku. Sebuah paket yang ternyata berasal dari Kedutaan Besar Australia sebagai balasan atas surat yang aku tulis.

Aku masih ingat dengan sangat jelas meskipun suratnya sekarang entah di mana, selembar surat resmi dengan kepala surat Kedutaan serta tanda tangan sang duta besar saat itu, di surat itu dibilang:

“Hereby I, as Australian ambassador, very happy to receive your letter and your spirit to study in our country, But, for now, I can’t provide you some scholarship to continue your study in Australia yet. In order to substitute the bad news, I sent you some books and souvenirs from Australia. Thanks for writing. See you soon in Australia.”

Australian Ambassador to Indonesia

John McCarthy

Bersama dengan surat itu, di dalam paket, berisi majalah-majalah Australia, gantungan kunci, dan pembatas buku yang merupakan souvenir dari Australia. Bisa dibayangkan bagaimana gembiranya aku saat itu? Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata bahwa surat yang aku kirim lewat pos ke kedutaan besar Australia dibalas secara langsung oleh duta besar Australia untuk Indonesia.

Bagaimana dengan surat-surat untuk kedutaan besar yang lain? Surat ke kedutaan Italia dibalas dengan mengirimkan surat dari bagian rumah tangga kedutaan bahwa duta besar sibuk sehingga tidak bisa membalas suratku dan aku dikirimi sebuah majalah berbahasa Italia. Sedangkan surat ke kedutaan besar Inggris sampai sekarang tidak ada balasannya. Meskipun begitu, aku sudah sangat bahagia….

Kini…..

Kini, bagi sebagian besar orang, pos bukan merupakan sebuah pilihan tempat untuk didatangi. Buat apa? Berkirim surat? Sudah ada email. Kirim uang? Sudah banyak tersebar ATM untuk transfer. Berkirim paket? Jasa pengiriman paket sudah menjamur di mana-mana.

Tapi bukan untukku….

Kini….

Aku masih rajin mengunjungi kantor pos yang ada di universitasku. Tempatnya ada di pojok samping masjid. Tidak begitu kentara sih, tapi masih ada di situ berdiri kokoh dengan cat warna orange nya. Buat apa aku masih rajin mengunjungi kantor pos?

Oh, aku belum cerita ya? Sejak diperkenalkan dengan kartu pos dan perangko oleh ayah waktu itu, saat ini aku menjadi seorang kolektor kartu pos dan perangko. Kadang aku hanya mampir ke kantor pos untuk mengecek apakah ada kartu pos atau perangko baru yang dikeluarkan oleh PT. Pos Indonesia. Sekedar informasi, saat ini aku sudah punya lima album koleksi kartu pos (baik dari Indonesia ataupun dari Luar Negeri) serta dua album besar perangko.

Aku sering titip oleh-oleh ke teman-teman yang keluar negeri untuk membelikanku kartu pos atau perangko. Namun, sebagian besar kartu pos koleksiku merupakan pemberian dari random person in the world yang tergabung dalam situs kirim mengirim kartu pos, postcrossing.com. Di situs itu, kita dapat mengirimkan kartu pos ke beberapa random people yang sudah ditentukan oleh situs untuk mendapatkan kartu pos dari random people yang lain. Menurutku, ini sangat seru sekali. Tak jarang aku bolak-balik ke kantor pos untuk mengirimkan kertu pos ke orang yang tidak aku kenal di Amerika, Cina, Rusia, Serbia, Belanda, bahkan Mesir. Sebaliknya, tiap hari aku juga menunggu-nunggu sebuah kartu pos sampai di tempat kosanku. Bisa dari Perancis, Rusia, Jerman, Norwegia, atau Kanada.

Seru bukan? Tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengunjungi kantor pos…… Bahkan mungkin petugas kantor pos di kampus sudah hapal denganku.

Nanti….

Suatu saat nanti, aku yakin kantor pos dan segala keajaibannya akan tetap bertahan di tengah derasnya arus kemajuan teknologi. Aku yakin masih banyak pecinta kantor pos serta perangkat pos lainnya yang akan membuat kantor pos bertahan….

Nanti….

Apabila tidak, aku dengan bangganya akan mengatakan bahwa aku adalah seorang saksi dan bagian dari perjalanan kantor pos.

Bahwa Kantor Pos, Keajaiban, dan Ceritanya merupakan bagian dari hidupku baik dulu, kini, dan nanti…..

Jakarta, 28 September 2014
17:38 WIB
Di antara lantunan ayat Quran menjelang Maghrib.

Cerita ini dibuat untuk diikutkan dalam kompetisi “Cerita Pos” yang diadakan oleh Telkomsel.

August 12th, 2014
compoundchem:

Today’s graphic looks at the compounds behind the characteristic smell of the seaside.
Read more about where these compounds come from here: http://wp.me/p4aPLT-nf

compoundchem:

Today’s graphic looks at the compounds behind the characteristic smell of the seaside.

Read more about where these compounds come from here: http://wp.me/p4aPLT-nf

(via scientificthought)

(Source: worshipgifs, via ofhopeandfear)

July 21st, 2014

Halo, Selamat Tinggal

Part #1 : http://mychopstick.tumblr.com/post/91380345968/halo-selamat-tinggal-1

Part #2 : http://mychopstick.tumblr.com/post/91625196228/halo-selamat-tinggal-2

Part #3 : http://mychopstick.tumblr.com/post/92347693908/halo-selamat-tinggal-3

Halo, Selamat Tinggal #3

Hampir 30 menit dan dia masih belum menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan tempat ini dan selama itu pula kita tidak saling berbicara. Kadang aku tidak sengaja melihatnya memandangi gelasku. Entah apa yang dia pikirkan. Ah. Sudahlah…..

“susu strawberry eh?” tanyanya sambil mengerutkan keningnya, yang entah mengapa menurutku membuatnya tampak lebih lucu. Tunggu dulu! Ayolah nindya, pikiran macam apa tadi itu?

“ya, minuman favorit gw, kenapa?”

“sebuah pilihan yang cukup menarik dan tidak biasa”

Aku tidak menjawab, dan kami kembali ke pikiran masing-masing. Lima menit berlalu dan….

Sebuah telpon masuk dari telepon genggamku. Aku mengambil telepon genggamku di dalam tas, dan aneh sekali tidak ada telpon masuk. Kebingunganku akhirnya terjawab ketika Andre berbicara melalui telpon genggamnya. Oh…itu telpon genggamnya yang berbunyi. Kebetulan yang sangat menarik, nada dering telepon genggam kita sama.

“Eh. Nada dering telpon genggam kita sama ya….”

“Hmm…..” dia menjawab seadanya.

“Lo suka Chicago juga?”

“ ya, gw suka banget. Apalagi kalau mereka bawain lagu ini. Home

Tiba-tiba, seolah semesta sedang berkonspirasi, lagu dari pengeras suara kafe dipojok pun memutar lagu Home dari Chicago. Seketika itu juga tawa kami meledak.

“hahahahahahaha. Gila! Kebetulan macam apa ini?” aku tertawa terbahak-bahak sampai perutku terasa sangat sakit.

“hahaha. Kita jodoh kali…”

“yah. Siapa tau, kalau Tuhan mengizinkan”

(bersambung)

Karena membiarkan sebuah kesalahan terjadi di depan mata kita adalah sebuah kesalahan juga….
Sebuah Refleksi
July 20th, 2014
July 13th, 2014

Saya Setuju dengan Kang Maul… :”D