August 12th, 2014
compoundchem:

Today’s graphic looks at the compounds behind the characteristic smell of the seaside.
Read more about where these compounds come from here: http://wp.me/p4aPLT-nf

compoundchem:

Today’s graphic looks at the compounds behind the characteristic smell of the seaside.

Read more about where these compounds come from here: http://wp.me/p4aPLT-nf

(via scientificthought)

(Source: worshipgifs, via ofhopeandfear)

July 21st, 2014

Halo, Selamat Tinggal

Part #1 : http://mychopstick.tumblr.com/post/91380345968/halo-selamat-tinggal-1

Part #2 : http://mychopstick.tumblr.com/post/91625196228/halo-selamat-tinggal-2

Part #3 : http://mychopstick.tumblr.com/post/92347693908/halo-selamat-tinggal-3

Halo, Selamat Tinggal #3

Hampir 30 menit dan dia masih belum menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan tempat ini dan selama itu pula kita tidak saling berbicara. Kadang aku tidak sengaja melihatnya memandangi gelasku. Entah apa yang dia pikirkan. Ah. Sudahlah…..

“susu strawberry eh?” tanyanya sambil mengerutkan keningnya, yang entah mengapa menurutku membuatnya tampak lebih lucu. Tunggu dulu! Ayolah nindya, pikiran macam apa tadi itu?

“ya, minuman favorit gw, kenapa?”

“sebuah pilihan yang cukup menarik dan tidak biasa”

Aku tidak menjawab, dan kami kembali ke pikiran masing-masing. Lima menit berlalu dan….

Sebuah telpon masuk dari telepon genggamku. Aku mengambil telepon genggamku di dalam tas, dan aneh sekali tidak ada telpon masuk. Kebingunganku akhirnya terjawab ketika Andre berbicara melalui telpon genggamnya. Oh…itu telpon genggamnya yang berbunyi. Kebetulan yang sangat menarik, nada dering telepon genggam kita sama.

“Eh. Nada dering telpon genggam kita sama ya….”

“Hmm…..” dia menjawab seadanya.

“Lo suka Chicago juga?”

“ ya, gw suka banget. Apalagi kalau mereka bawain lagu ini. Home

Tiba-tiba, seolah semesta sedang berkonspirasi, lagu dari pengeras suara kafe dipojok pun memutar lagu Home dari Chicago. Seketika itu juga tawa kami meledak.

“hahahahahahaha. Gila! Kebetulan macam apa ini?” aku tertawa terbahak-bahak sampai perutku terasa sangat sakit.

“hahaha. Kita jodoh kali…”

“yah. Siapa tau, kalau Tuhan mengizinkan”

(bersambung)

Karena membiarkan sebuah kesalahan terjadi di depan mata kita adalah sebuah kesalahan juga….
Sebuah Refleksi
July 20th, 2014
July 13th, 2014

Saya Setuju dengan Kang Maul… :”D

Halo, Selamat Tinggal #2

Akupun mempercepat langkahku agar bisa sesegera mungkin menempati pojok favoritku. Namun, entah apakah Tuhan membenciku hari ini. Pojok favoritku itu telah diduduki oleh seorang laki-laki, padahal biasanya di jam-jam seperti ini kafe itu selalu sepi dan pojok favoritku masih kosong. Kecewa! Tapi yah tetap saja aku memesan segelas susu strawberry dan duduk di meja seberang dari pojok favoritku. Siapa tau dia sebentar lagi pergi, tidak salah kan untuk berharap?

Dan… sudah sejam berlalu, laki-laki itu masih bertengger di pojok favoritku. Baiklah. Aku akan mencoba untuk berbicara dengannya, siapa tau dia mau mengerti dan berpindah tempat duduk.

Aku hampir sampai di pojok favoritku dan ingin memanggil laki-laki itu, sampai tiba-tiba aku berpikir bahwa aku mengenal laki-laki itu. Akupun memutar otakku, dan…. Tepat sekali, aku mengenalnya… dia si makhluk arogan itu. Oh Tuhan. Apakah kau sebegitu bencinya denganku… aku hanya menginginkan pojok favoritku kembali untuk mengembalikan moodku dan kau malah memberiku makhluk yang justru akan memperburuk moodku.

Entah berapa lama aku mematung di situ, aku juga tak tau, yang aku ketahui hanyalah bahwa sedetik kemudian aku tersadar karena lelaki itu menyapaku.

“Hai, ada yang bisa gue bantu?”

Aku kembali tertegun, apa yang harus ku lakukan. Jujur aku segan ngobrol dengannya saat ini. Ah. Sudahlah, sebaiknya aku kembali saja ke mejaku. “Oh, tidak. Maaf gue salah orang sepertinya.” Aku kemudian berbalik dan ingin cepat-cepat kembali ke mejaku sebelum dia mengenalku dan sebelum kembali terjadi perang dunia.

“Tunggu sebentar, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

SIAL! Apa salahku Tuhan…. Kenapa kau menghukumku seperti ini? Aku bisa saja berjalan terus dan tak mempedulikannya, tapi ntah apa yang membuatku berbalik ke arahnya.

“Ah… benar, lo yang ada di bandara itu kan? Si gadis tomboy dan keras kepala itu”

SIAL LAGI! Aku langsung menyesali keputusanku untuk kembali ke meja itu.

“Oh. Wow. Lo masih inget? Gue pikir lo tipe orang yang mudah melupakan pertemuan dengan seseorang.”

“Weits, santai nin, nama lo masih Nindya kan?”

“Ya, menurut lo aja nama gue bisa berubah-ubah, lo kira bunglon. Oiya dan, boleh permisi, karena tempat yang lo dudukin adalah pojok favorit gue.”

Yah, aku juga tidak tau kenapa aku harus bersikap seperti itu kepadanya, Entahlah, kalau ditilik baik-baik sebenarnya dia tidak sepenuhnya salah sih, lagipula entah kenapa aku senang dia masih hapal namaku. Tunggu sebentar! perasaan apa itu?

“Oh, tempat ini adalah tempat duduk favorit lo? Kenapa lo gak duduk di sini aja bareng gue daripada kita harus berebut tempat kayak gini…”

SIAL LAGI DAN LAGI! Kenapa juga makhluk yang satu ini harus mengeluarkan pilihan seperti itu. Tuhan… Kenapa? Kenapa? Yah, tapi daripada aku harus balik ke kantor dalam keadaan bad mood. Akhirnya aku terima tawaran makhluk yang satu ini untuk duduk bersama dan berbagi pojok favoritku. Siapa tau dia sebentar lagi pergi dan aku bisa menguasai pojok favoritku sendiri.

Hampir 30 menit dan dia masih belum menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan tempat ini dan selama itu pula kita tidak saling berbicara. Kadang aku tidak sengaja melihatnya memandangi gelasku. Entah apa yang dia pikirkan. Ah. Sudahlah…..

(bersambung)

islamicthinking:

Masjid Al-Aqsa, Palestine. Front wall side picture.

islamicthinking:

Masjid Al-Aqsa, Palestine. Front wall side picture.

July 11th, 2014

Halo, Selamat Tinggal…. #1

“Gw Andre, dan lo?”

“Nindya…”

“Kenapa lo?”

“Gw cuman gak suka airport, that’s it!”

“Kok bisa?”

“Karena airport mengingatkan gw pada perpisahan…”

————————————-

Memang semuanya berawal dari maskapai sialan itu. Coba kalau pesawatku tidak mengalami delay sore itu, aku tidak akan bertemu dengan makhluk arogan yang satu itu. Siapa tadi namanya, Hmm. Andi? Aku rasa bukan… Andre! Ya itu dia namanya. Berani sekali dia mendebatku dengan alasan irasionalnya itu. Oke. Mungkin tidak irrasional, alasannya cukup bagus, aku mungkin hanya kesal karena aku kalah berdebat dengannya. Selama ini aku selalu mendapatkan kemenangan untuk adu debat dalam hal apapun. Keluargaku selalu heran dengan kemampuanku mengolah kata-kata, mereka bilang aku pantas menjadi pengacara. Lucu sekali bukan? Bukannya jadi pengacara seperti kata mereka, aku malah jatuh cinta pada sebuah pekerjaan aneh ini. Perkenalkan! Nindya Ardelia Putri. Seorang editor di suatu majalah remaja. Apakah anda bertanya-tanya mengapa aku justru menjadi seorang editor dan bukan menjadi seorang pengacara? Coba anda amati baik-baik, bukankah seorang editor dan pengacara itu merupakan pekerjaan yang tidak jauh berbeda? Seorang editor dan pengacara sama-sama memerlukan sebuah bakat untuk mengolah kata-kata. Bedanya, kalau seorang editor mengolah kata-kata dalam bentuk teks tertulis, kalau pengacara mengolah kata-kata secara lisan. Apakah saya salah? Saya yakin tidak!

Oke… Mari kita lupakan tentang si Arogan yang satu itu. Pekerjaanku masih banyak menumpuk. Di kubikel seluas 2x2 meter ini, artikel yang harus diedit telah mencapai dua tumpukan saja. Tapi aduh, kenapa jadi tidak mood seperti ini? Saya rasa saya butuh susu strawberry

Setiap kali merasa tidak mood seperti ini, susu strawberry hangat tampaknya telah menjadi semacam minuman pembangkit energi bagiku. Tidak seperti orang lain yang lebih memilih kopi untuk mengembalikan konsentrasi dan energi mereka, nampaknya susu strawberry sudah cukup menjadi penyegar jiwa dan ragaku. Justru kalau minum kopi aku malah pusing. Berbicara mengenai susu strawberry, di dekat kantorku terdapat sebuah kafe yang menjual susu strawberry terenak nomor dua yang pernah ada di dunia ini, setidaknya menurutku. Rekor susu strawberry terenak tentu saja masih dipegang oleh susu strawberry buatan ibuku sendiri. Satu lagi yang membuatku selalu memilih kafe itu untuk tempat nongkrongku di kala suntuk adalah di salah satu pojok kafe tersebut, terdapat tempat duduk favoritku, dengan meja-kursi ala 70-an dan menghadap ke sebuah kaca besar yang merupakan pemisah antara toko dengan trotoar. Di pojok ini, aku biasanya bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk meminum segelas susu strawberry dan memperhatikan orang yang berlalu-lalang di balik kaca.

Akupun mempercepat langkahku agar bisa sesegera mungkin menempati pojok favoritku.

Namun, entah apakah Tuhan membenciku hari ini….. 

(bersambung)

Salam Hangat dari Situs Gunung Padang - Cianjur! :)

Situs Gunung Padang! Peninggalan Megalitikum Terbesar di Asia Tenggara… #2

(dari atas ke bawah)

1. A breathtaking view dari tingkat 2 punden berundak SItus Gunung Padang, tampak di kejauhan batu tegak yang disusun persegi panjang sebagai tempat pemujaan.

2. Pemandangan tingkat 1 punden berundak

3. Tangga menuju tingkat teratas (tingkat 5) dari punden berundak Situs Gunung Padang

4. Another breathtaking view dari Situs Gunung Padang, diambil dari tingkat 2 punden berundak

5. Tingkat 2 dan tingkat 3 punden berundak Situs Gunung Padang

6. Pintu masuk dan tangga akses Situs Gunung Padang

Situs Gunung Padang! Peninggalan Megalitikum Terbesar di Asia Tenggara…. #1

(dari atas ke bawah)

1 & 2: Tangga asli akses Situs Gunung Padang yang dibangun oleh masyarakat Megalitikum dengan menyusun batu tanpa perekat

3: Pemandangan di atas Gunung Padang: Bebatuan yang disusun seolah-olah acak tapi merupakan batas (pagar) dari situs 

4: Tangga menuju punden berundak tingkat 1

5: Batu tegak: satu-satunya kumpulan batu yang disusun secara vertikal yang memagari daerah berbentuk persegi panjang. Merupakan tempat pemujaan terhadap Tuhan oleh Masyarakat Megalitikum